Banyak Adab Tanpa Ridha Allah Ta’ala, Berakibat Siksa

  • Whatsapp
adab

Yang belajar ilmu, pasti nambah. Sebagaimana yang bijaksana akan menjadi panutan. Namun, ilmu yang digunakan untuk kejahatan akan menjadi petaka. Sebagaimana banyak adab tapi minus ridha Allah Ta’ala, akan berakibat siksa.

Yang berakal, pastilah akan menempatkan ilmunya untuk kemanfaatan dirinya di dua desa; dunia dan akhirat.

Ketika diberi rizki ilmu, jangan pelit memberi faidah. (Tapi yang mengambil faidah juga harus tahu kesibukan yang di ambil faidah, serta dengan adab tentunya. Hehe) Karena awal berkahnya ilmu dengan memberi faidah/menyebarkannya.

Sejauh pandanganku (Syaikh Abu Hatim dalam kitab Raudhatul Uqala 39 Syamilah), yang pelit ilmu, pengetahuannya tak akan manfaat! Sebagaimana ketidak manfaatan air diam di dalam bumi selagi tak dialirkan, emas merah/langka yang tidak dikeluarkan dari asalnya, dan mutiara yang tidak diambil dari dasar lautan. Begitupula ilmu, ia tidak bermanfaat selama tersimpan tak di sebarkan dan di beber faidahnya.”

NB: Pelit dengan tidak memberikan ilmu versus yang tidak mau memberikan ilmu pada muridnya yang tak layak, jelas beda. Jadi, maksud pelit diatas, dia blass tidak mau memberikan ilmunya baik pada orang yang pantas atau tidak.

Tapi, repotnya, yang berani dan terang-terangan mau mengkaji, malah sepi penggemar 😀 berulangkali ia ingin membaca banyak kitab ilmu di kaumnya, yang ikut sedikit, bahkan tidak ada. Ibarat pembuat status FB, sudah sulit-sulit mentelaah lalu mengulas dan menterjemah kitab ampuh, ternyata nihil penyuka, apes tenan 😀 walaupun bener-bener niat lillahi ta’ala. Kalau ada yang bilang itu karena kurang alim, ya ndak seluruhnya betul, lhawong banyak yang tidak alim penggemarnya bejibun. Kalau ada yang bilang kurang ikhlas, ya, ndak seratus persen benar, lhawong banyak orang alim sampai nabi yang tidak punya pengikut, je. Yang benar ntu, itu kehendak Allah (Wes bar nek ngene, Haha). Lhaiya, kata orang jawa: Punya pengikut/santri itu sinungan (Ndilalah sama Allah, orang-orang dikasih senang dengannya). Dan itu rizki. Serta rizki adalah ujian, kuat drajat atau tidak?!

Kata teman saya yang dengan segala keterbatasan ekonomi tetap mengajar: “Menurut saya, dawuh Mbah Yai Sepuh Lirboyo: Santri kalau pulang hadapilah dampar/meja ngaji (Kiasan untuk mau mengaji), dibagi beberapa tingkatan; Kalau punya santri, ya ngaji sama santrinya. Kalau tidak punya, ya, sama anak istrinya. Namun, kalau ndak punya santri ples anak istri, niat ingsun ngaji diri (Yakni setiap derap langkahnya, selalu berusaha teringat ilmunya dan mengamalkannya)”.

Dan saya sepakat. Tetap berjalan di jalur mulyamu, Kawan.

Penulis: Ust. Robert Azmi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *