Bertemu Nabi Khidir Alaihissalam dengan Cara ini

  • Whatsapp
Nabi Khidir

Santri dulu banyak yang kepingin bertemu Nabi Khidir alaihissalam yang dipercayai masih hidup sampai sekarang.

Konon, kalau bertemu beliau, gampang mendapatkan ilmu ladunni, semacam cheat kalau dalam game 😀. Hafalan cepet dan otak seperti kaset. Mak sret! Sekali lihat ilmu hafal semua, lalu cita-cita selanjutnya menjadi wali, minim wali badal 😅.

Berbagai macam cara dilakukan, mulai wirid khusus sampai riwa-riwi di pinggir brantas. Dan hamba adalah salah satunya. Namun, sampai rambut memutih belum kesampaian juga, kasiaaann 😀😀😀.

Karenanya, jauh-jauh hari, ayah hamba mewejang yang dulu pernah saya ketik, “Sing penting tandhang! (Yang penting belajar!)”. Makanya, ketika saya ngajar, kadang saya sampaikan, “Yang penting belajar rajin. E, jika nanti mendapat anugrah ketemu Nabi Khidir, itu bonus. Kalau ndak ketemu, kalian sudah punya bekal. Siapasih santri yang tidak ingin ketemu nabi?! Kalau toh tidak mendapat ilmu ladunni, mendapat berkah doanya saja sudah luar biasa”.

Itu santri kuno, entah santri sekarang hehehe.

Mendengarkan kisah Nabi Khidir bagi saya adalah hal yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata; antara bahagia, harapan, rindu dan keindahan tak terlukis. Karena itu adalah pengalaman spiritual terindah bagi yang pernah merasakannya. Ceritapun hanya dari mulut ke mulut. Kalaupun ada dalam kitab, pasti tempatnya nylempit, tidak terprediksi, jarang yang membuat bab khusus tentang beliau. Seperti halnya tadi malam waktu mentelaah kitab Faidhul Qadirnya Imam al-Munawi 2/7 DKI pada hadis nomer 1187, tiba-tiba mata tertumbuk keterangan sedikit tentang Beliau, begini:

Syaikh Bilal al-Khawwas berkisah.

Ketika aku berada di bumi kebanggaan Bani Israil. Tiba-tiba entah muncul darimana, ada lelaki yang berjalan disampingku. Seketika itu juga ada semacam ilham yang memberitahuku bahwa dia adalah Nabi Khidir AS. Kesempatan emas itu kupergunakan baik-baik dengan menanyainya, “Dengan kebenaran Alllah yang maha benar. Siapakah sebenarnya anda?”

“Aku Khidir” (Ternyata ilham Syaikh Bilal al-Khawwas benar. Lalu beliau melanjutkan pertanyaannya)

“Bagaimana pandangan Anda tentang Malik bin Anas?”

“Dia adalah imamnya para imam”

“Kalau Syafi’i?”

“Dia termasuk wali autad (Wali paku bumi: jawa)”

“Ahmad (bin Hambal)?”

“Dia bagian dari Shiddiqin”

“Bisyr (al-Harits)?”

“Adalah orang yang tak tergantikan”

(Kemudian, Imam Bilal al-Khawwas mengajukan pertanyaan terakhir)

“Dengan perantara apa, kok aku —diberi anugrah— bisa melihat dan bertemu Anda?”

“Sebab perbuatan baik yang kau lakukan pada Ibumu!”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *