Definisi Cinta Menurut Beberapa Tokoh

  • Whatsapp
definisi cinta

Definisi Cinta Menurut Beberapa Tokoh – Aku cinta ayah ibu, cinta saudara, cinta kerabat, dan cinta seluruh umat manusia, terlebih muslimin muslimat. Namun, ketika mata memandang makhluk yang bermata jeli, gigi indah bak deretan mutiara, dengan senyum mengembang seolah menenggelamkan sang mentari, hati mak jeduggg! Mata sedikit berkunang, jalan sempoyongan, tangan gemetar, nafas seperti gelombang, dan bicara bak anak belum makan siang 😀. Dalam bahasa arab itu namanya Isyq; cinta diatas cinta pada umumnya, cinta dengan penuh gairah, yang bahasa sederhananya adalah kasmaran atau asmara.

Asmara bagai angin, terasa tapi tak terlihat. Yah, seperti kentut, kasat mata, namun menggegerkan dunia 😀

Mulai zaman dahulu kala, sejak manusia mengenal aksara, para ahli sudah pusing merumuskan apa itu asmara, satu dan lainnya beda menyimpulkan, sebab tergantung dengan apa yang dirasakan:

Kata Plato, “Asmara adalah pergerakan hati yang kosong tanpa adanya campur tangan fikiran” (Mak srett, langsung tuing!).

Kata Aristoteles, “Asmara adalah kebutaan terhadap segala cela yang dicinta” (Kok jadi senyam-senyum sendiri mau membuat contoh. Hahaha).

Dan yang lebih njlimet adalah kesimpulan Bapak Bilangan, Phytagoras, “Asmara adalah sebuah watak yang lahir dalam hati. Ia bergerak, tumbuh, lalu terdidik. Dan dengannya, berkumpullah perasaan sangat ingin dicinta dan menyinta. Ketika perasaan itu menguat, pemiliknya akan semakin bergairah dan penuh dengan keinginan, semakin berharap, fikiran semakin melayang, lalu menjadi rakus untuk mendapatkan keinginannya, hingga bisa membuatnya sedih, risau dan gelisah.”

Kata ulama yang sezaman dan dekat dengan Khalifah Harun ar-Rasyid yakni Imam Asmu’i: “Banyak orang yang memiliki arti definisi cinta atau mendevinisikan asmara, namun tiada yang lebih ringkas dari omongan salah satu perempuan desa zamanku. Ucapnya: ‘Cinta adalah kehinaan dan kegilaan’”

If love is blind

I’ll find my way with you

‘Cause I can’t see myself

I’m not in love with you.

Jreng! 😀 😀

Penyebab datangnya asmara, beragam. Namun yang terbesar dari pandangan; dari mata turun ke hati. Dan ketika itu sudah terjadi, hanya dua kemungkinan; kuat atau tidak. Jika kuat, maka selamat, matipun ada yang mengatakan syahid. Jika tak kuat, maka akan membawa bencana baik dunia atau akhirat. Makanya, jauh-jauh hari, Gusti Allah Ta’ala telah memperingatkan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ …

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; … “ (QS. An-Nuur 30)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِناتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ …

“Katakanlah, kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya … “ (QS. An-Nuur 31)

Lihat, Gusti Allah Ta’ala membarengkan kata pandangan dengan kemaluan. Ini indikasi sangat jelas. Apalagi musim lockdown kaya gini, mulai fesbuk, twitter, instagram, clubhouse, tiktok dan seabrek godaan mata selalu mengintai. Dan huih! sekhusuk apapun, ibarat batu yang tertetesi air, lama kelamaan akan jebol jua.

Tak urung, Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallama mewanti-wanti menantu terkasihnya:

“Hei Ali. Takutlah melihat setelah penglihatan yang lain. karena itu laksana panah beracun yang bisa menimbulkan syahwat di hati”. Dan, “Jangan teruskan satu penglihatan (Terhadap lawan jenis) dengan lainnya. Yang pertama memang hakmu, namun yang terakhir, bukan!”

Kata Imam Hakim: “Muasal asmara adalah melihat, sebagaimana asal kebakaran, percikan api.”

(Nihayatul Arab 2/125-133 Syamilah)

Jadi, semoga bisa selamat semuanya; jiwa dan raga. Amin ….

Penulis: Ust. Robert Azmi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *