Kitab Fiqh Mazdhab Imam Syafi’i yang ditulis Selama 14 Tahun

  • Whatsapp
Imam Syafi'i

Kitab Fiqh Mazdhab Imam Syafi’i yang ditulis selama 14 tahun – Imam Zakariya Muhyiddin an-Nawawi (631 H.) adalah salah satu ulama pilar madzhab Imam Syafi’i (Mujtahid Tarjih).

Sebelum wafat, beliau mengarang kitab yang sering jadi rujukan para aktifis bahtsul masaail, Majmu’ Sarah Muhaddzab. Namun, sayang, baru mengurai bab jual beli, tepatnya bab riba, beliau kapundut. Alfaatihah.

Kitab Muhadzab adalah karya ulama luar biasa madzhab Syafi’i, Imam Abu Ishaq as-Syairazi (Ada yang membaca as-Syirazi nama daerah di Persia kuno 393-476 H. / 1003-1083 M.). Ianya menjadi kitab yang kadang jadi ukuran hebat atau tidaknya santri kuno dalam memahami fiqh syafiiyyah, selain Fathul Wahhab. Tidak heran kitabnya begitu berkah, sebab lakunya sebagaimana Imam Bukhari, yakni setiap selesai menggarap satu fasal di kitab Muhaddzab, beliau melakukan shalat sunnah dua rakaat. Dan kitab itu beliau karang selama 14 tahun, hampir sama dengan Imam Bukhari yang mengarang Shahih Bukhari 16 tahun.

Sejarah mencatat, walaupun didekati penguasa dinasti Abbasyiyyah hingga mau diangkat jadi menantu, beliau lebih memilih bergulat dengan ilmu, menjauhi dunia. Sangat zuhud, dan sangat miskin 😭. Puluhan hingga ratusan muridnya menjadi paku bumi di daerahnya dan sangat mewarnai dunia keilmuan islam, terkhusus madzhab Syafi’i.

Suatu ketika, Imam Syairazi bermimpi bertemu Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallama:

“Ketika tidur. Aku bermimpi bertemu Nabi shallallahu alaihi wasallama. Dalam mimpi itu, kulihat beliau bersama dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Lalu aku bertanya: ‘Ya Rasulallah. Banyak sekali hadis dari penukilnya yang sampai padaku. Dalam kesempatan ini, aku ingin mendengar langsung satu hadis dari Anda, yang bisa memulyakanku di dunia sekaligus menjadi bekal simpananku kelak di akhirat.”

Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallama bersabda, ‘Ya, Syaikh’. Nabi memanggilku dengan sebutan Syaikh! Dan berbicara dengan panggilan itu. Lalu kemudian bersabda:

من أراد السلامة، فليطلبها في سلامة غيره

‘Yang ingin selamat. Carilah selamat dalam keselamatan orang lain’

(Punya empati, tepo seliro, saling membantu sekaligus mendoakan.)

Pantaslah jika setelahnya. Kehidupan beliau dihabiskan untuk mengajar, mentelaah ilmu, dan beribadah hingga akhir hayatnya. Bahkan Imam Syairazi pernah berkata:

‘Sehari, ku ulang pelajaranku, seratus kali!’

‘Jika kumenemukan sebuah qiyas/perbandingan, kan ku uji ulang seribu kali! Setelah selesai, baru ku mengambil qiyas lain’.

‘Orang bodoh mengikut orang alim. Ketika si alim tidak mengamalkan ilmunya, si bodoh tidak akan lagi berharap padanya. Ya, Allah … Allah … Duhai murid-muridku, Aku berlindung dengan nama Allah dari ilmu yang kelak —di akhirat— bisa menjadi hujjah (bumerang) bagiku’”.

Duh … 😭😭😭

Wallahu A’lam bis-Shawaab.

Di ambil dengan penyesuaian bahasa dari mukaddimah cetakan Majmu’ Syarah Muhadzab Darul Fikr Dr. Mahmoud Matraji.

Penulis: Ust. Robert Azmi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *