Keramat, Memindahkan Kitab Harus dengan Adab

Diposting pada

Sepintas terlihat mata, memindah-mindahkan buku atau kitab itu tampak seperti pekerjaan remeh tapi sebenarnya berat. Bagi orang bodoh, memindahkan buku atau kitab itu cukup dilempar secara sembarang.

Tapi tidak menurut orang yang menghargai ilmu. Memindahkan buku atau kitab bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi jika yang dipindahkan itu adalah karya-karya ulama yang sudah wafat ratusan tahun lalu. Meskipun semua karyanya dipindah ke dalam bentuk cetak, muatan yang tersimpan di dalam karya-karya para ulama itu adalah keberkahan dari banyak aspek. Keberkahan itu bisa berupa doa dari orang tua, guru, para sahabat dan para murid mereka. Doa-doa itu yang kemudian membentuk karāmah (kemuliaan/keramat).

Karena itu, kitab-kitab karya para ulama memang mengandung keramat. Bagaimana mungkin tidak ada keramatnya, jika di dalam kitab itu berulang-ulang ditulis nama Nabi Muhammad shallallāhu wa sallam, makhluk yang paling dicintai oleh Allah. Entah berapa banyak shalawat yang dibaca para ulama itu setiap kali menulis kata Rasulullāh dan ditutup dengan kalimat:
بجاه سيدنا محمد صلى الله عليه وسلّم

Yang menariknya lagi, karya para ulama itu ditulis bukan untuk memenuhi syarat angka kredit atau untuk bisa diterima jurnal terindeks scopus. Apa yang mereka tulis, semata-mata dalam rangka berkhidmah kepada al-Qur’an dan Sunnah.

Maka dari itu, memindahkan karya-karya para ulama ini dibutuhkan kehati-hatian dan adab. Memindahkan buku atau kitab juga memberi pelajaran betapa harusnya seorang thalib/pembelajar itu berhati-hati di dalam memindahkan atau menyampaikan ilmu. Ilmu yang diraih dengan adab, akan hilang kemanfaatannya jika disampaikan tanpa adab.

Author:
Ust. Abdi Kurnia Djohan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *