Mbah Raden Asnawi Bendan dan Pengajian Sanganan

  • Whatsapp
Mbah Raden Asnawi Bendan
Sumber: suaranahdliyin.com, foto Pondok Bendan

Hari ini 63 tahun yang lalu Mbah Raden Asnawi Bendan menghadap Sang Kholiq. Saya ingin sedikit bercerita tentang pengabdiannya, yaitu kiprah Beliau dalam berdakwah.

Sejarah Pengajian Sanganan.

Sejak tidak bermukim lagi di Makkah dan kembali ke tanah air (Kudus), Mbah Raden Asnawi Bendan mengisi kegiatannya dengan dakwah, mengajarkan ilmu agama Islam, diantaranya mendirikan pondok pesantren, mendirikan madrasah Qudsiyyah, dan beberapa majlis ta’lim. Beberapa majlis ta’lim peninggalan Mbah Raden Asnawi Bendan yaitu, pengajian tafsir-hadits Jumu’ah Pajar dan Ramadhan, Pengajian tasawuf di Tajug, pengajian Sanganan, pengajian Pitulasan, dsb. Pengajian Sanganan dilakukan di Masjid Agung Kudus sedang Pengajian Pitulasan di Masjid Menoro Kudus.

Suatu saat Bupati Kudus, Subarkah (1945-1946), memohon kepada Mbah Raden Asnawi Bendan untuk memberkahi kantornya (pendopo) dengan kegiatan pengajian (tabligh). Permintaan tersebut dikabulkan dan Mbah Asnawi Bendan bertabligh sebulan sekali di pendopo kabupaten. Pengajian itu selalu ramai dipadati pengunjung dari Kudus dan sekitarnya. Pengajian di pendopo kabupaten ini tidak berlangsung lama karena setelah Bapak Subarkah pindah dari Kudus, majlis pengajiannya dipindahkan ke Madjid Agung Kudus.

Mbah Asnawi Bendan bertabligh di Masjid Agung Kudus setiap tanggal 9 bulan Hijriyah. Masyarakat Kauman Wetan menyebut kegiatan pengajian itu dengan “Pengajian Sanganan”. Pengajian Sanganan ini selalu diasuh Mbah Asnawi Bendan dan berlangsung cukup lama sampai Mbah Asnawi Bendan tidak mampu lagi bertabligh karena usia udzur.

Menurut penuturan ibu Sunaifah, setiap habis mengisi Pengajian Sanganan Mbah Asnawi Bendan selalu dijamu oleh Kiai Wasil dengan jamuan sate kambing Pak Mu’in (Utara Masjid Agung). Sepulangnya dari jamuan, Mbah Asnawi Bendan dibawakan oleh-oleh bermacam suguhan termasuk sate dan gulenya.

Mbah Asnawi Bendan tidak mengisi pengajian jika sedang berada di luar kota (mendatangi undangan, muktamar atau rapat-rapat NU)

Penulis: Ust. Moh. Aslim Akmal, Kudus

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *