Walau Telah Besar dan Sukses, Lelaki Sejati Tak Pantas Jumawa

  • Whatsapp
Lelaki sejati

Setiap manusia, pasti ada sisi buruknya, pun pula kebaikannya, walau penjahat kaliber.

Al-Makmun bin Harun ar-Rasyid memang membuat sengsara para ulama madzahib dengan gegeran qur’an adalah makhluk. Namun, dalam mendidik putra, dia menerapkan adab yang baik.

Untuk pelajaran Nahwu (Gramatika Arabik), Al-Makmun menyerahkan pengajarannya pada Imam al-Farra’.

Suatu ketika. Usai pelajaran. Karena kepentingan mendesak. Imam al-Farra’ bergegas meninggalkan ruang belajar yang disitu ada dua putra al-Makmun. Namun, tanpa di komando. Kedua putra Khalifah itu berlari, menuju sendal gurunya, dan berebut ingin memakaikannya! Keduanya berseteru. Siapa yang berhak dahulu memakaikan sendal Imam al-Farra’. Lalu, keduanya berdamai dan bersepakat kalau sendal di bagi dua, dan masing-masing memakaikan sendal tersebut pada gurunya.

Di ruangan itu, ada pengawal kedua pangeran. Melihat kejadian tersebut. Ia melaporkan pada khalifah al-Makmun.

Tak lama kemudian. Al-Makmun memanggil Imam al-Farra’. Ketika sudah menghadap. Sang Raja bertanya padanya:

“Hei, Farra’. Di kerajaan ini, siapa yang paling mulia?”

“Selain, Baginda. Saya tidak tahu siapa lagi” jawab Imam Farra’.

“Tidak. Tidak betul itu. Yang paling mulia adalah orang yang bergegas melaksanakan kebutuhannya. Lalu dua orang yang kelak akan menguasai segala janji muslimin bertengkar. Kemudian keduanya berdamai, dan mau memakaikan satu persatu sendal untuknya.”

Imam Farra’ tercekat. Melihat reputasi khalifahnya ini. Ia berkata hati-hati:

“Ya Amiral Mukminin. Sebenarnya hamba ingin mencegah. Namun tidak berani menolak penghormatan dari keduanya, hingga akan menghancurkan perasaan mereka sebab sangat ingin memulyakan”.

Mendengar penjelasannya, Khalifah Al-Makmun berkata begini: “Kalau kau mencegah mereka, malah aku akan menghukummu dengan cacian dan celaan. Kau kuanggap berdosa. Sebab apa yang mereka berdua kerjakan, tidak merendahkan mereka, bahkan meninggikan derajad keduanya, serta menjelaskan kemutiaraannya. Dan dengan perbuatan mereka, aku berani menjelaskan betapa singgasana ini penuh dengan tipu daya. Perlu juga kamu ketahui; Sebab ini, Aku memberi hadiah keduanya duapuluh ribu dinar. Dan karena kebaikan ajaran adab yang engkau tanamkan, kuberi kau hadiah sepuluh ribu dirham!”

Sebelum memungkasi perkataannya tersebut, Al-Makmun berkata: “Walau telah besar dan sukses, lelaki sejati tak pantas jumawa pada tiga orang ini: Rajanya, kedua orangtuanya, dan gurunya” (Ples kawan dan kerabatnya. Ini tambahan dari saya. Xexe)

Wallahu A’lam bis-Shawab

Nazhatul Albaa Fi Thabaqatil-Udabaa Syaikh al-Anbariy Syamilah Hal: 81. Dengan penyesuaian bahasa ala hamba tentunya.

Selamat pagi. Selamat berkarya. Semoga kita sehat semua. Amin …

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *